Selasa

Kampung Pedagang

"Aneh..pade jelapan ntan nimpes!! yak te lampaq ni.." "ndot juluk..arak sak kemarean ni..kalem-alem bae ntan..belande masi jaok.." "Ni anu sai ni?coba pesopok ntan dendek pegelanyat meni.." "ayo..buruan berkemas!!kita akan segera berangkat" "ntar dulu..ada yang ketinggalan ni..pelan-pelan aja..belanda masih jauh." "ini punya siapa?coba disatukan jangan diberantakin begini.."
Itulah cuplikan percakapan yang masih terekam diingatan saat pulang kampung kemarin. Alhamdulillah Akhir Oktober 2008 kami sekeluarga bisa pulang kampung mengunjungi tanah kelahiran yang hampir 3 tahun ini selalu menjadi keinginan kami. Ya.."Pulang Kampung"merupakan keinginan yang begitu ingin kami lakukan namun sulit diwujudkan. selain karena waktu yang tidak pernah memungkinkan,biaya yang cukup besar untuk sekali perjalanan juga merupakan hal yang menghalangi kami untuk melaksanakanya.Mungkin bagi sebagian orang pulang kampung biasa dilakukan,namun bagi kami saat-saat itu adalah saat yang paling kami nantikan. Perlu waktu 2 tahun untuk menyiapkan segalanya,maklum penghasilan kami selama ini hanya cukup untuk menutupi kebutuhan hidup dikota ini.
Terlepas dari keadaan tersebut, ada kejadian menarik sewaktu kami pulang kemarin. Awalnya Kami dikejutkan dengan berdatangannya sekitar 5-6 mobil angkutan ke kampung kami malam itu. Kejadian ini termasuk jarang dikampung ini,karena hal ini biasanya terjadi kalo ada acara adat "Nyongkolan" (kawinan). Tapi itupun biasanya sore hari,jarang malam-malam begini. Ternyata setelah tanya sana sini akhirnya kami tau,kalau malam itu adalah malam keberangkatan sebagian besar pemuda dikampung kami untuk berjualan Gordyn(Gorden/tirai) ke Flores.Kegiatan ini sebenarnya setiap saat dilakukan namun menyambut natal dan tahun baru kegiatan ini dilakukan serempak sehingga menjadi lebih ramai dan semarak.Mengapa kok natal dan tahun baru?ya..karena menurut pengalaman,masyarakat flores dan sekitarnya memiliki kebiasaan mengganti gorden rumahnya setiap mau natal dan tahun baru(mungkin kalo ditempat kami seperti mengecat rumah atau masjid menjelang ramadhan dan maulid kali ya..). Bulan-bulan itu merupakan masa panen bagi pedagang gorden di kampung kami. Persiapannya sudah mulai dilakukan 1 ato 2 bulan sebelumnya. Mulai dari desain maupun kain yang digunakan semua direncanakan jauh sebelumnya. Kebiasaan ini sudah berlangsung puluhan tahun dan sebagian besar dilakukan pemuda dikampung kami. Tidak heran jika antara bulan oktober-desember pemuda dikampung ini menghilang.
Namun ada pertanyaan yang muncul dari beberapa orang dari luar kampung kami dan juga orang kami sendiri. Cerita tentang kesuksesan berdagang mereka diluar,kenapa tidak diimbangi dengan peningkatan taraf hidup masyarakat kami secara umum?Apa yang salah dengan masyarakat ini?Keuntungan yang demikian besar (menurut informasi satu orang bisa mendapatkan keuntungan puluhan juta) hampir tidak meninggalkan jejak dalam kehidupan sehari-hari masyarakat ini..Sebagian besar mereka (kalau tidak mau dibilang miskin) hidup pas-pasan malah cenderung miskin. Lalu kemana hasil berjualan mereka??
Yang jelas "tradisi" ini menjadi tontonan menarik yang menunjukkan bahwa sebenarnya pemuda-pemuda tersebut adalah para pekerja keras bukan pemalas seperti yang dicap kebanyakan orang. Semoga ini membangkitkan semangat mereka untuk terus bekerja memberi penghidupan yang layak bagi keluarga dan masyarakat sekitar.
Wassalam
hadi
Note: Najwa paling ingat dengan pulang kampung dan naik cidomo (andong)..belakangan ini hampir tiap hari dia mengajak untuk pulang kampung..Hmmm,mungkin dia kangen mbahnya kali ya....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar